Paparan.co.id | Balaraja – Upaya pemulihan pascabencana alam di kawasan Perumahan Griya Sutera Balaraja memasuki babak penting. Warga terdampak menyampaikan tuntutan kompensasi senilai Rp300 juta sebagai bentuk tanggung jawab atas dampak kerugian yang dialami. Dari total tuntutan tersebut, Rp200 juta telah resmi dicairkan dan diterima oleh ketua RW O4 BUDI.SH pada Selasa, 27 Januari 2026, sementara sisa Rp100 juta rupiah, masih dalam proses persetujuan internal pihak pengembang, dan warga sangat berharap kompensasi tersebut.

Pencairan dana tahap awal ini dinilai sebagai langkah konkret yang menunjukkan itikad baik dan keseriusan pengembang, PT ICR, dalam merespons aspirasi warga. Proses pembahasan lanjutan terkait sisa kompensasi masih terus berjalan dan diklaim berada dalam koridor musyawarah serta komitmen penyelesaian yang berkeadilan.

Tak hanya berhenti pada kompensasi finansial, PT ICR juga menyatakan komitmen penuh untuk membangun tanggul permanen, pintu air, serta penyediaan mesin pompa air sebagai sistem pengendalian banjir jangka panjang. Pembangunan ini pun turut di awasi oleh warga karena Kehadiran infrastruktur tersebut dipandang krusial oleh warga sebagai solusi struktural guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.

Pembangunan tanggul dan instalasi mesin pompa menjadi penegasan bahwa pengembang tidak sekadar menyalurkan kompensasi, melainkan juga mengambil tanggung jawab nyata atas keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga. Langkah ini sekaligus menepis anggapan abai terhadap risiko ekologis yang kerap membayangi kawasan permukiman.

Warga Griya Sutera Balaraja berharap seluruh komitmen yang telah disampaikan dapat direalisasikan tepat waktu dan transparan. Mereka menilai penyelesaian menyeluruh—baik secara material maupun infrastruktur—adalah kunci utama untuk memulihkan rasa aman dan kepercayaan masyarakat.

Dengan pencairan dana awal serta rencana pembangunan sarana pengendali banjir, PT ICR dinilai menunjukkan sikap bertanggung jawab dan responsif terhadap bencana alam yang terjadi, sekaligus membuka ruang dialog konstruktif antara pengembang dan warga terdampak.